Paradigma budaya sekolah kita

Paradigma budaya sekolah kita

Musim ujian sekolah seperti ini, mendadak saya teringat perbincangan saat makan siang bersama teman-teman kantor yang sudah memiliki anak dan rata-rata duduk di bangku SMP & SMA, para ortu tersebut berbicara tentang kebingungannya hendak meneruskan sekolah kemanakah setelah itu? atau setelah lulus SMA mereka akan melanjutkan ke perkuliahan mana? hendak menekuni profesi seperti apa?

Yang menjadi perhatian saya adalah perlakuan dan pandangan mereka sangat jelas berbeda dari latar belakang suku mereka yang berbeda, berikut kesimpulan yang saya dapat dari perbincangan mereka:

Teman-teman yang dari Jawa dan sekitarnya
Kebanyakan mereka bingung seandainya anak mereka tidak diterima di sekolah/ perguruan Tinggi Negeri, dan bagaimana anaknya nanti bekerja di mana dan sebagai apa.

Seperti musim penerimaan siswa baru sekolah Negeri, para ortu bingung dengan registrasi anaknya yang sistem online (pengalaman jadi korban kebingungan mereka untuk memantau anak2 mereka apakah di terima atau tidak, karena kebetulan saat itu staff yang mendapat akses internet di kantor hanya saya hehehe). Mereka gelisah seandainya registrasi anaknya di tolak di sekolah A, dan beralih ke sekolah B namun juga tetap tergeser posisinya. Bukan saja bingung tapi juga panik apabila anaknya tidak lolos dalam registrasi tersebut, lebih miris lagi sering kita temui di berita banyak terjadi jual beli kursi……menyedihkan untuk kasus yang seperti ini.

Teman-teman keturunan Tiong Hoa
Mereka lebih santai dan tidak ada target apapun memasukkan anaknya ke sekolah negeri, mereka lebih memilih sekolah swasta dengan sistem pendidikan yang bagus, mahal sudah menjadi resiko dan untuk menyiasatinya adalah mengandalkan beasiswa, bagaimana mendapatkan beasiswa? ya tentu saja mereka menekankan anaknya supaya disiplin dan belajar mandiri untuk memahami dan mengerti apa yang diajarkan di sekolah selama ini, mereka juga memberikan penjelasan ke anaknya tentang resiko ke depan jika tidak mendapat nilai bagus di kelasnya atas usahanya tersebut. Dan mereka juga mendidik anaknya untuk aktif berwiraswasta. Bagaimana jika tidak mendapatkan beasiswa? berarti sudah resiko ortu untuk mengeluarkan biaya pendidikan lebih.

Tanpa harus memusingkan target masuk sekolah negeri dan meneruskan kuliah di mana, saya pikir pemikiran ibu-bapak dari golongan ini lebih simple tapi bermanfaat besar, pada dasarnya lebih menekankan kepada anak tentang resiko dan tanggung jawab belajar mau jadi apa kelak adalah pemikiran yang masuk akal, dari kecil anaknya di didik untuk menentukan sendiri keinginannya dan ortu hanya memberikan support untuk mencapai targetnya sendiri. Tanpa ada target “harus bisa masuk Sekolah Negeri”. Ketekunan dan berwiraswasta adalah tujuan utama dari cara didikan ini, secara tidak langsung mereka menerapkan pemikiran ke anaknya untuk menjadi dirinya sendiri dan membiasakan diri menjadi pengusaha bukan sebagai karyawan.

Bedakan dengan pemikiran masyarakat kita selama ini, kebanyakan dari mereka ingin anaknya sekolah di perguruan tinggi negeri dan setelah lulus kerja di tempat bergengsi, perusahaan besar, mapan, dan lain-lain, padahal secara tidak langsung mereka menginginkan kita sebagai karyawan, pekerja, atau apalah namanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *